FF HaeSica – Love Disease [Chapter 1]

Title : Love Disease (Chapter 1)Love Disease - HaeSica_
Author : Gina (Hyun Sang) & Annisa (Eun Sang)
Cast : Jessica, Donghae, Minho, Yuri, Taeyeon, and the other cast
Rating : PG-13
Genre : Romance, Angst
Length : Chaptered
Disclaimer : Inspired by songs and fanfiction. Poster and this fanfict originally by author.

I don’t know about love
And I don’t know what I feel

      Angin musim gugur menyapa gadis itu dengan belaiannya yang lembut. Namun gadis itu tetap diam di tempat. Dia malah asyik berkutat dengan sebuah buku yang ada di pangkuannya. Hari ini ia sudah janji untuk pulang bersama sahabatnya meski ia harus merelakan waktunya terbuang sia-sia karena sang sahabat harus menyerahkan tugas yang telat diberikan pada dosen.
Setelah melirik ke arah jam tangan yang ia kenakan di tangan kirinya, gadis itu mendesah pelan. Ia sudah menunggu selama dua puluh menit dan sahabatnya tak kunjung datang. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, tapi sahabat yang dia cari sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Lagi-lagi dia mendesah.
“Jessica!”
Begitu mendengar namanya disebut oleh orang yang amat ia kenal suaranya, gadis yang bernama Jessica melirik ke arah sumber suara dengan wajah yang masam. Jessica benar-benar yakin bahwa orang yang memanggil namanya adalah orang yang sedang ia tunggu. Taeyeon—begitu ia akrab disapa—berlari menghampiri Jessica dengan wajah yang tak berdosa.
“Ah, mianhae. Aku sudah membuatmu lama menunggu,” ucap Taeyeon.
“Ya! Aku sudah menunggumu selama dua puluh menit dan kau hanya mengatakan kata ‘mianhae’? Yang benar saja?” Jessica menggerutu kesal.
“Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tidak tahu kalau dosen kita ternyata sulit sekali diajak kompromi. Aku sudah memberikan beberapa alasan agar tugasku bisa dia terima, tapi sulit sekali. Setelah beberapa kali membujuknya, akhirnya aku bisa membuat dia luluh. Ah, syukurlah, untung saja dia mau menerima tugasku.” Taeyeon berceloteh tanpa mempedulikan sahabatnya yang sudah tak tahan akan sikapnya.
Jessica melipat kedua tangannya di depan dada. “Kau juga salah. Tugas yang kau kumpulkan itu adalah tugas bulan lalu, tapi kau baru mengumpulkannya sekarang.”
Taeyeon terkikik geli melihat tingkah sahabatnya. Jessica memang seperti ini. Dingin, angkuh, dan nyaris saja tak ingin berteman dengan siapa pun. Taeyeon tahu betul sifat Jessica.Tapi untungnya, ia adalah satu dari dua orang beruntung yang berhasil membuat Jessica mau berteman dengannya. Taeyeon yang sudah mengenal Jessica sejak berumur tiga belas tahun tak merasa takut lagi saat mengetahui bahwa amarah Jessica sedang meluap.
“Baiklah. Untuk menebus kesalahanku, ayo kita pergi ke cafe. Kali ini, aku yang bayar.”
Jessica tersenyum simpul, merasa dirinya berhasil membuat Taeyeon bertekuk lutut. “Itu lebih baik. Gomawo.”
Sebenarnya, bukannya Jessica tidak mau berteman dengan orang lain. Ia hanya tidak bisa mempercayai orang lain seperti yang ia lakukan pada Taeyeon. Minho adalah orang selain Taeyeon yang juga berhasil meluluhkan hati seorang Jessica. Mungkin bagi orang lain, Jessica adalah orang sombong yang tidak ingin berteman dengan siapa pun, tapi tidak bagi Taeyeon dan Minho. Jessica hanya tidak tahu bagaimana caranya memulai pertemanan dan Jessica tidak tahu bagaimana caranya menyapa orang lain.
Sama halnya dalam urusan cinta. Jessica tidak pernah sudi berpacaran dengan siapa pun. Ia sudah menolak banyak lelaki secara mentah-mentah hanya karena Jessica tidak tahu bagaimana rasanya mencintai. Jessica pernah berkata pada Taeyeon bahwa ia tidak akan pernah menerima siapa pun yang ingin menjadi pacarnya, kecuali orang itu benar-benar bisa mengerti perasaannya dan bisa membuat Jessica jatuh cinta. Jessica ingin sekali merasa dicintai dan mencintai. Sesederhana itu.
“Jessica! Taeyeon!” Terdengar ada seseorang yang memanggil mereka berdua. Jessica dan Taeyeon sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
Sebuah senyuman tersungging di bibir Minho saat melihat kedua sahabatnya sedang berkumpul di sebuah taman yang ada di kampus. Ekspresi khawatir yang menghiasi wajah Minho tiba-tiba menghilang saat melihat sosok kedua sahabat baiknya.
“Aku sudah mencari kalian kemana-mana dan ternyata kalian berdua ada di sini. Ayo kita pulang!” ajak Minho sambil menarik lengan Jessica dan Taeyeon.
“Minho-ya, hari ini Taeyeon mengajak kita pergi ke cafe dan dia akan membayarnya,” ucap Jessica.
“Wah, jinjja? Taeyeon-ah, kau benar-benar akan membayarkannya?” Mata Minho berbinar begitu mendengar ucapan Jessica barusan. Meskipun Minho termasuk dalam kalangan orang yang berada, ia tetap menyukai hal yang sifatnya gratis.
“Ya! Aku hanya akan mentraktir Jessica,” elak Taeyeon dan membuat Minho mengembuskan napasnya kasar.
“Aish, kenapa hanya Jessica saja yang kau traktir? Kau tidak adil.”
Taeyeon yang tak terima dengan ucapan Minho mulai kesal. “Tadi aku sudah membuat kesalahan pada Jessica. Dia layak untuk mendapatkannya.”
“Jadi aku tidak layak mendapatkannya? Taeyeon-ah, aku juga mau ditraktir.” Minho mengeluarkan jurus puppy eyes-nya dan berharap Taeyeon bersedia utuk mentraktirnya juga.
Meski dengan berat hati, akhirnya Taeyeon pun luluh gara-gara melihat ekspresi Minho yang berubah menjadi imut seperti barusan. Andaikan saja Taeyeon tak menatap mata Minho, pasti ia tak akan terjerat akal bulus lelaki itu. Mungkin Minho punya kekuatan ajaib pada matanya.
“Ah, geurae. Aku akan mentraktirmu juga, meski terpaksa,” ucap Taeyeon kemudian.
“Ya! Taeyeon-ah! Jangan begitu,” gerutu Minho.
Jessica yang sedari tadi memilih untuk diam malah asyik memperhatikan kedua sahabatnya sambil sesekali tersenyum. Dia tak salah pilih. Taeyeon dan Minho memang yang terbaik untuknya.

***

“Eoseo oseyo. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang pelayan tampan dengan ramah begitu ada pelanggan masuk ke restoran siap saji tempat ia bekerja. Setelan yang ia kenakan begitu rapih dan keren.Berdasarkan penglihatan atasannya, restoran ini ramai karena pelayan tampan itu dengan mudah menarik perhatian mereka. Tak jarang ada orang yang rela masuk ke restoran itu tanpa membeli apa-apa hanya untuk melihat pelayan tampan, si pemilik senyum yang sangat menawan. Mulai dari anak-anak sampai orang lanjut usia sangat mengagumi keindahan senyumnya. Tak salah jika atasan pelayan itu memberinya upah bonus karena telah membuat restoran siap sajinya ramai pengunjung.
“Lee Donghae,” panggil seseorang bertubuh tinggi pada pelayan tampan yang masih sibuk menyapa para pelanggan.
“Ya, tuan?” jawab si pelayan yang tak lain adalah Donghae.
“Saya akan keluar sebentar. Bisa kau jaga restoranku?” tanya Tuan Park, atasan Donghae yang sudah berpakaian rapih. Mungkin ia akan menghadiri pertemuan dengan beberapa koleganya.
Donghae tersenyum mendengar perkataan Tuan Park. Ia berani taruhan, Tuan Park pasti sudah menghabiskan satu botol parfum untuk membuat blazzernya wangi. Wanginya benar-benar menyengat dan membuat Donghae sedikit terbatuk. “Ye, algesseumnida.”
“Baiklah. Saya pergi dulu. Kalau ada masalah, kau bisa telepon saya.”
Sambil membungkukkan badannya, Donghae berkata, “Ah, ye.”
Setelah memastikan bahwa Tuan Park sudah tak terlihat batang hidungnya, Donghae menghela napas. Tadinya ia ingin meminta pulang lebih awal untuk mengerjakan tugas kuliah yang sama sekali belum tersentuh, tapi hari ini ia kurang beruntung. Sepertinya Donghae akan pulang lebih larut dari hari biasanya, padahal tugas itu harus dikumpulkan besok.Pikiran Donghae sudah terbagi-bagi, membuat ia menjadi lupa pernah diberi tugas yang harus dikumpulkan besok. Donghae tak punya waktu lagi untuk mengerjakan tugas kuliah, kecuali jika ia ingin berhadapan dengan dosen galaknya selama berhari-hari. Benar-benar sial.
“Donghae oppa!” panggil seseorang yang seketika membuat lamunan Donghae segera kabur. Donghae menepuk jidatnya, ia kenal betul pada suara yang ia yakini sekarang sedang menghampirinya. Ternyata hari ini memang benar-benar sial.
“Aku sudah berkata padamu beberapa kali, jangan panggil aku dengan sebutan oppa. Usia kita sama, bukan?” ucap Donghae tanpa basa-basi saat seorang gadis sudah berdiri tepat di sampingnya.
“Aku menyayangimu. Jadi tidak ada salahnya kalau aku memanggilmu ‘oppa’. Oppa, ayo kita makan malam bersama,” ajaknya secara tiba-tiba.
Donghae menggeleng pelan, menolak ajakan gadis itu tanpa berpikir sedetik pun. Ia berharap semoga waktu berjalan dengan cepat agar gadis berisik ini segera pergi dari hadapannya dan dengan begitu ia bisa sedikit tenang. “Mian, aku sedang sibuk.”
Mendengar perkataan Donghae, bibir gadis itu mengerucut. Dia berusaha menunjukkan aegyeo-nya meski Donghae sama sekali tidak tertarik. “Apanya yang sibuk? Bahkan kau sama sekali tidak menyapaku saat datang ke restoran ini. Harusnya kau menyapa pelanggan yang datang, bukan?”
“Apa perlu kujelaskan lagi? Kwon Yuri, mianhae, aku sedang sibuk. Bos-ku sedang pergi ke luar dan dia menyerahkan kepercayaannya padaku untuk menjaga restoran ini. Kau mau aku dipecat hanya karena makan malam bersamamu? Konyol sekali,” cibir Donghae. Dia tidak habis pikir, kenapa gadis yang bernama Yuri itu selalu mengganggunya setiap saat? Apa dia tidak punya pekerjaan yang lebih penting ketimbang menjadi stalker seperti ini? Ah, Donghae ingat. Yuri dilahirkan oleh kedua orang tua yang bekerja sebagai pengusaha kaya. Menjadi orang kaya seperti Yuri, kan, tidak perlu repot-repot bekerja mencari uang untuk bayar kuliah.
“Ayolah, sekali saja,” bujuk Yuri.
“Kau berisik,” komentar Donghae ketus. Ia sudah kesal pada Yuri yang tingkahnya semakin menjengkelkan.
“Geurae, aku akan menunggu sampai semua pekerjaanmu selesai. Oppa, aku pesan burger, kentang goreng, dan jus jeruk. Kutunggu.” Yuri segera duduk di salah satu meja kosong dan membiarkan Donghae kebingungan sendiri.
Donghae meniup poninya kesal. “Aish, menyebalkan.”

***

Jessica tinggal bersama seorang adik dan kedua orang tuanya. Krystal, adik Jessica yang manis memiliki kepribadian yang berbeda jauh dengan Jessica. Jessica lebih sering menyendiri sedangkan Krystal senang sekali berkumpul bersama semua temannya. Jessica hanya berbicara seperlunya saja sedangkan Krystal termasuk gadis yang senang sekali berbicara. Wajah mereka memang mirip, tapi karakter mereka sangat berbeda.
Sejak kecil, Jessica memang jarang pergi ke luar rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Tak heran jika Jessica bisa menghitung semua teman yang ia miliki dengan jari. Ya, dia memang memiliki beberapa teman, tapi tak ada yang sebaik Taeyeon dan Minho.
Ditemani beribu-ribu bintang di langit musim gugur yang mendadak begitu cerah, Jessica bersenandung kecil di pinggir kolam sambil mendengarkan lagu kesukaannya.Setelah menghabiskan waktu bersama Taeyeon dan Minho di beberapa tempat, akhirnya Jessica bisa beristirahat di rumah besarnya dan menikmati semilir angin di musim gugur.
Tadinya, Taeyeon ingin menginap di rumah Jessica, namun ia tidak punya banyak waktu untuk itu. Ia harus mengerjakan beberapa tugas kuliah yang belum dikerjakan daripada harus berurusan dengan dosen seperti yang terjadi tadi siang.
Jessica yang telinganya tersumbat oleh earphone tiba-tiba merasa pundaknya berguncang. Jessica menoleh dan mendapati adiknya sudah berdiri di sampingnya.
“Eonnie, aku sudah memanggilmu sedari tadi. Kau tidak dengar?”
Jessica melepas earphone yang dikenakannya “Aku sedang mendengarkan lagu. Jangan ganggu aku.”
Krystal menghembuskan napasnya kasar. “Eonnie, tadi aku mendapat telepon dari eomma. Katanya, eomma dan appa akan pulang malam lagi,” ucap Krystal memberikan informasi pada Jessica.
“Aku sudah terbiasa,” timpal Jessica sambil membuka halaman majalah yang sedang ia baca.
“Aku akan pergi bersama Minhyuk oppa. Eonnie mau ikut?” tawar Krystal.
Jessica menatap Krystal tajam, seperti akan muncul sebilah pisau di matanya. “Aku tak mau mengganggu kencan pasangan muda.”
“Geurae. Eonnie, aku pergi dulu. Annyeong.” Krystal lenyap dalam sekejap begitu mendengar bunyi klakson mobil yang ia yakini berasal dari mobil mewah milik kekasihnya, Kang Minhyuk.
Jessica menatap siluet tubuh adiknya yang cepat sekali menghilang. Ia tidak percaya bahwa adiknya bisa bekerja dua kali lebih cepat bila Minhyuk datang. Krystal bisa melakukan sikat gigi, cuci muka, menyisir rambut dalam waktu yang bersamaan. Krystal juga jadi bisa menghabiskan makanannya dengan cepat. Ternyata cinta bisa menjadi obat paling mujarab untuk Krystal yang pemalas dan lambat.
Jessica kembali memasang earphone¬-nya dan memejamkan matanya erat.

***

Jam dinding yang tergantung di apatemen Donghae sudah menunjukkan pukul 1 malam, namun Donghae masih belum tidur juga. Lelaki itu terlihat sedang sibuk menyelesaikan tugasnya setelah dipaksa menemani Yuri jalan-jalan di taman sekitar tiga puluh menit. Donghae terus menghela napas kesal karena menyadari kebodohannya. Jika tadi dia terus berusaha menolak dan tak terpengaruh oleh Yuri yang terus memaksanya, pasti tugas kuliah itu sudah selesai.
Drrrt…drrtt.
Ponsel Donghae bergetar, tanda ada pesan masuk. Donghae menoleh sebentar, kemudian kembali menatap layar laptop sambil meraih ponselnya. Ia menekan tombol untuk membuka kunci tanpa melihat dan membuka pesannya. Ia segera membaca pesan tersebut.

To : Lee Donghae
From : Kwon Yuri

Oppa, kau sudah tidur? Aku ingin mendengar suaramu~

“Aish, dia berisik sekali.” Donghae membanting ponselnya ke kasur. Yuri memang biasa mengiriminya pesan pendek di malam hari. Namun tak ada satu pun pesan yang dibalas oleh Donghae karena itu sama saja seperti mengharapkan Yuri lebih banyak mengiriminya pesan.
Donghae kembali menatap layar laptopnya, sebentar lagi tugasnya akan selesai dan ia bisa merebahkan diri di kasur empuknya. Ditemani beberapa nyamuk gemuk, Donghae kembali menyelesaikan tugas dan berharap di menit berikutnya tak ada pesan bodoh dari Yuri.
Ponselnya bergetar kembali. Donghae punya firasat buruk. Ia jadi takut kalau yang mengiriminya pesan adalah Yuri. Donghae menyipitkan mata saat mengetahui bahwa dugaannya benar-benar terjadi.

To : Lee Donghae
From : Kwon Yuri

Oppa, hwaiting! Jangan bekerja terlalu serius. Kalau kau sudah mengantuk, cepatlah tidur. Jaljayo~♥

Donghae mendecakkan lidahnya. “Dia benar-benar stalker.”

***

Jessica terbangun dari tidurnya sambil menahan rasa pening yang tiba-tiba menyerang. Ia tidak mengerti kenapa dia bisa menjadi pusing seperti ini. Setelah mengingat-ingat makanan apa saja yang sudah masuk ke perutnya hari ini, Jessica yakin bahwa tak ada satu pun makanan yang bisa membuatnya menjadi pusing.
Dengan langkah yang sedikit terhuyung, Jessica lekas menuju ke dapur dan mengambil salah satu obat tablet pereda sakit kepala. Setelah menyiapkan air yang bisa mendorong obat tabletnya masuk ke tenggorokan, ia segera meminum obat pahit tersebut. Meski kepalanya masih terasa pusing, Jessica yakin obat yang diminumnya akan segera bekerja dengan cepat dan Jessica yakin bahwa besok pagi rasa pusingnya akan hilang.
Rasa pusing yang menyerang kepala Jessica semakin menjadi-jadi. Jessica tidak tahu apa penyebabnya dan ia berusaha kembali ke kamarnya untuk berbaring. Dia berharap kalau rasa sakit ini hanyalah migrain biasa yang pasti akan sembuh dengan cepat. Jessica memejamkan matanya meski ia terus bertanya-tanya kenapa ia bisa terserang sakit kepala.

To Be Continue

Iklan